Minggu, 07 April 2013

Kisah Ahli Taat & Ahli Maksiat


Dirawayatkan dari Abu Hurairah rodiyallohu’anhu bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasalam  bersabda ,

“Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda karakternya. Salah seorang suka berbuat dosa dan yang lainnya rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.


Suatu kali orang yang ahli ibadah mendapatkannya tengah berbuat dosa, maka dia berkata, “Berhentilah berbuat dosa”. Dia menjawab , “ jangan pedulikan aku, terserah Alloh akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus Alloh untuk mengawasi aku?”. Laki-laki ahli ibadah itu menimpali, “Demi Alloh, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau Dia tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga”. 

Kemudian Alloh mencabut nyawa kedua orang itu, kemudian mereka berdua menghadap Alloh Rabbul ‘Alamin. Alloh berfirman kepada ahli ibadah, “ Apakah kamu lebih mengetahuin daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu”. Kemudian kepada ahli maksiat Alloh berfirman, “Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu”. Sementara untuk ahli ibadah Dia berfirman (kepada para malaikat), “Masukkan orang ini ke neraka”.

(Hadist shohih diriwayatkan oleh Ahmad, 22/323; Abu Dawud, 4901; Ibnu Mubarok dalam Kitab az-Zuhd, 314; Ibnu Abi Dunya dalam Husn az-Zhan, 45; al-Baghawi dalam Syarh as-Sunnah, 14/385)

Pelajaran yang dapat dipetik:

1.   Anjuran untuk senantiasa beramal ma’ruf nahi munkar.
2. Hendaknya seseorang segera berhenti dari kemungkaran dan berlepas diri darinya saat diingatkan dan dilarang, dan hendaknya tidak meneruskan dosa itu dengan keras kepala dan sombong.
3. Larangan membuat orang lain putus asa dari ampunan Alloh Yang Maha Penyayang.
4.   Beratnya sangsi mengucapkan sesuatu atas nama Alloh, tanpa didasari ilmu.
5.   Luasnya rahmat Alloh, Rabb seluruh alam.
6.  Seseorang yang memastikan orang masuk surga atau neraka, berarti dia telah menagkui memiliki sifat ketuhanan.
7Celaan kepada seseorang yang mengklaim dirinya sendiri sabagai hakim kebenaran.

(“61 Kisah Penghantar Tidur” karya Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Darul Haq halaman 10-11)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar