Minggu, 26 April 2015

Beautiful Life


         Pernahkah kita merasa "kurang ikhlas" dengan ketentuan ALLOH? Tentu hampir setiap kita pernah mengalami demikian namun hal tersebut tidaklah benar.

Takdir itu, the best way...begitu indah dan sangat indah...

         Keridloaan dan kelapangan hati kita  tentu akan berbuah manis pada akhirnya...Ya, keikhlasan hati menerima takdir akan membuat hidup kita jauh lebih bahagia, always on... 

      Subhanalloh...kecintaan ALLOH terhadap hambaNya melebihi kecintaan si hamba terhadap dirinya sendiri. Sadarkah kita bahwa pemberian ALLOH adalah yang terbaik dan pasti yang terbaik. Nalar dan logika manusia tidak dapat menjangkaunya. Logika kita terlalu sempit untuk menjangkau hakikat dari setiap ketentuanNya, terlalu sempit untuk mengungkap lautan hikmah dari Ar Rohman-Ar Rohim.

       Skenario kita tidaklah akan pernah lebih baik dari skenario ALLOH. Skenario ALLOH itulah yang terbaik dan pasti terbaik. Rencana kita tidak mampu mengungkap apa yang tersembunyi...Rencana kita belumlah tentu akan menjadi takdir hidup kita. Dialah Ar-Rohman yang menempa anak Adam dengan takdirNya  agar ia mendekat dengan sebenar-benar tawakal kepada Rabbul 'Alamin. Dialah yang memberikan pahala atas kesabaran hambanya...ikhlas dan bersandar kepadaNya.    

       Takdir hidup adalah hadiah terbaik dan terindah untuk hidup ini. Mungkin kita akan menyadarinya pada saat terjadi.... atau mungkin beberapa saat setelah berlalu, dan ketika kita telah menyadarinya maka tidak henti-hentinya kita memuji Alloh atas  Kasih SayangNya, atas KuasaNya untuk menyelamatkan hambaNya dan  memberikan takdir yang jauh lebih baik, jauh lebih baik untuk dunia & akhiratnya ...Subhanalloh

       Alloh memberikan sedikit waktu agar kita menata hati sembari menanamkan khouf &  rodja...agar kita siap dan ridlo dan tentunya janji Alloh adalah pasti...subhanallohu wabihamdih.

“kehidupan di muka bumi ini, ia akan menjadi indah 
bila kita memandangnya dengan kacamata keindahan,
 menyikapi segala peristiwa dengan hikmah dan bijaksana. 
Akan tetapi 
kehidupan ini akan menjadi kelam dan gelap gulita, 
bila kacamata yang dipakai untuk memandang 
adalah kacamata yang retak, yang berdebu dan kusam
(“Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong” 
by Ust. Syafiq Riza Basalamah halaman 71)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar