Tulisan ini saya sadur dari artikel www.kisahmuslim.com...semoga dapat memberikan maanfaat bagi calon ibu rumah tangga maupun bagi yang sudah berumah tangga...silahkan disimak dan direnungkan....
17 April 2010 •oleh: Ust. Dr. Muhammad Arifin Badri
Alhamdulillah, salawat dan salam semoga
dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga,
dan sahabatnya.
Anda telah berkeluarga? Bagaimana
pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? semulus dan seindah
yang Anda bayangkan dahulu? Mungkin saja Anda menjawab,
"Tidak". Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan
Anda: "Ya," bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan
sebelumnya.
Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang
penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan
kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda,
dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.
Bukankah demikian, Saudaraku?
Berbagai tantangan dan tanggung jawab
dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur
pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus
Anda tunaikan.
Tanggung jawab terhadap putra-putri,
pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.
Di antara tanggung jawab yang tidak akan
pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup
Anda.
Sebelum menikah, sah-sah saja Anda
sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan,
bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar,
dan berbagai gambaran indah.
Bukankah demikian, Saudaraku?
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا
وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
"Biasanya,
seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya,
kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih
wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung." (Muttafaqun 'alaihi)
Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini
dengan berkata, "Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang
lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar
tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk
menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan
bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan
tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan."
Keterangan al-Qurthubi ini semakna
dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-'Ash radhiyallahu
'anhu, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى
حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى
أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ
وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
'Janganlah engkau
menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya
yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta
kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa
daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya.
Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia
patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.'" (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)
Akan tetapi, sekarang, setelah Anda
menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam
lamunan Anda?
Bila benar-benar seluruh impian Anda
terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat
berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati
atau kecewa.
Saudaraku, besarkan hati Anda, karena
nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan
umat manusia.
عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ
كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ،
وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ
الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ
Abu Musa radhiyallahu ‘anhu
menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki
yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang
berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir'aun dan Maryam binti Imran.
Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan
bubur daging [1] dibanding makanan lainnya." (Muttafaqun 'alaihi)
Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah
dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik
untuk Anda!
Anda tidak percaya? Silakan Anda
membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut
ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا
خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Tidak pantas bagi
lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak
menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang
lain." (Hr. Muslim)
Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda
kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah
penyayang.
Anda kurang puas dengan istri Anda yang
kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena
ia begitu cantik rupawan.
Anda berkecil hati karena istri Anda
kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur
sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda
bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan
tetapi mandul.
Demikianlah seterusnya.
Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda
hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan
kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang
suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan
pasangan Anda.
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati
istrinya. Aisyah mengisahkan,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ
سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ
عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ:
أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ
مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ.
قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ
اسْمَكَ
“Pada suatu hari,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku
mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah
kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal
itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika
engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila
engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata,
‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan
berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada
yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun 'alaihi)
Demikianlah teladan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya,
sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun
Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka,
senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa,
perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.
Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ
لِأَهْلِي
"Orang terbaik di
antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku
adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku." (Hr. At-Tirmidzi)
Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan
apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?
Saudaraku, tidak ada salahnya bila
sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan
idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran
istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang kaum wanita berikut ini,
الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا،
وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
"Wanita itu
bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau
menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau
dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok." (Muttafaqun 'alaihi)
Pada riwayat lain, beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ
وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا
تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
"Tidak mungkin
istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang
rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah.
Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang
dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)
Nah, sekarang, silakan Anda mengorek
memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan
padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki
banyak kelebihan.
Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa
tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang
dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka,
bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ
فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا
"Bila engkau
melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu!
Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang
engkau lihat itu." (Hr. At-Tirmidzi)
Demikianlah caranya agar Anda dapat
senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa
bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih
hijau.
Selamat berbahagia dengan pasangan hidup
yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah
tangga Anda. Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda
juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya,
pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan
lain sebagainya.
Betapa indahnya gambaran rumah tangga
Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat
terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?
Saudariku, setelah Anda menikah,
benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini
terwujud pada pasangan hidup Anda?
Bila benar terwujud, maka saya ucapkan
selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu
berkecil hati.
Besarkan hatimu, wahai Saudariku!
Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.
Bila selama ini, Saudari ciut hati karena
suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan
perhatian dan tanggung jawab.
Bila selama ini, Saudari kecewa karena
suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan
bertanggung jawab.
Andai selama ini, Saudari kurang puas
karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu
membanggakan dalam urusan luar rumah.
Juga, andai selama ini, sikap suami Anda
terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan,
karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata,
selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda
merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.
Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam
kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak
kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup
rumah tangga bersamanya.
Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap
suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah
tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di
akhirat kelak.
Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah
tangga Anda seindah dambaan Anda.
أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ
يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ،
وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ
رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Aku diberi kesempatan
untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para
wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat
bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?”
Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar
terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu,
lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku
tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun 'alaihi)
Anda mendambakan kebahagian dalam rumah
tangga?
Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan
berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah
membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya,
dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.
Percayalah Saudariku, suami Anda adalah
pasangan terbaik untuk Anda.
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ
شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي
الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Bila seorang istri
telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian
dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya,
'Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)
Tidakkah Anda mendambakan termasuk
orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang
mana pun?
Kunci Keberhasilan
Rumah Tangga
Saudaraku, mungkin selama ini Anda
bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang
dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.
Anda berhasil menemukannya?
Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan
selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan
rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
"Dan para wanita
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan
tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya." (Qs. al-Baqarah: 228)
Hak pasangan Anda setimpal dengan
kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda,
maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Shahabat Abdullah bin 'Abbas memberikan
contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau
berkata, "Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku,
sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta'ala
telah berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
‘Dan para wanita
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.’
Aku pun tidak ingin menuntut seluruh
hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
‘Akan tetapi, para
suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’" (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)
Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara
dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau
ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan?
Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil
menawan untuk orang lain?
Saudaraku, bahu-membahu, saling
melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar
dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai
penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan
sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga
beliau.
Aisyah radhiyallahu 'anha mengisahkan,
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ
خَرَجَ
"Dahulu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila
beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke
mesjid." (Hr. Bukhari)
Constance Gager, ketua studi sekaligus
asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey,
mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan
dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya
ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama adalah suami-suami yang
tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah
suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga
istri.
Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok
kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis
dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan
indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.
Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal
baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan
istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan
erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.
Sebaliknya, istri yang peduli dengan
pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.
Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai
Saudaraku?
Selamat membuktikan resep manjur ini!
Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat
bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a'lam
bish-shawab.
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin
Badri
Artikel
www.pengusahamuslim.com
===
catatan kaki:
[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.
catatan kaki:
[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar