Jika
kita mendengar kata memasak maka pikiran kita terjuju pada sosok perempuan yg
tiada lelah bekerja di dapur untuk keluarga yaitu Ibu.
Memang benar, memasak adalah tugas pokok seorang ibu. Meskipun demikian, jika seorang ikhwan sesekali memasak dan terlibat pekerjaan
rumah tangga itu adalah point plus (menurut saya) dan bukan suatu hal yang
tercela.
Dijaman sekarang ini, kita dimudahkan dengan sarana yang ada. Kalaupun tidak bisa memasak maka warung
makan dan restoran cepat saji merupakan alternatif yang bisa dipilih.
Kalau kita menengok kebelakang, kita dapati ibu-ibu zaman dulu adalah teladan yang baik. Mereka memiliki bakti yang luar biasa kepada suami dan keluarganya. Mereka menghabiskan sebagian waktunya untuk urusan dapur guna menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami mereka. Belum lagi tugas beres-beres rumah dan mendidik anak yang tentunya cukup melelahkan. Dan yang lebih hebatnya lagi mereka tidak mengeluh dengan rutinitas yang ada, masyaAlloh...
Bandingkan dengan zaman sekarang. Banyak wanita yang bekerja dengan meninggalkan rumah-rumah mereka. Sebagian ada yang memiliki asisten rumah tangga (bagi mereka yang mampu) dan ada juga yang tidak. Lantas, bagaimana dengan suami dan anak-anak mereka ya? bagaimana mereka memberi waktu untuk kelurganya? bagaimana pula dengan tugas-tugasnya yang secara kodrat melekat padanya guna mencari surga Alloh? Saudari ku muslimah, itu adalah fenomena dizaman ini dan tentunya kita akan memberikan yang terbaik bagi keluarga kita.
Kembali lagi ketema pembahasan. Saudariku, meskipun kepandaian memasak bukanlah suatu hal yang mutlak, akan tetapi tidak ada salahnya bagi calon ibu rumah tangga untuk segera memulai belajar memasak agar terbiasa. Banyak sekali manfaat yang kelak dapat diambil ketika sudah berumah tangga (selain mendapatkan pahala jika ikhlas_isyaAlloh) dan diantaranya adalah :
Kalau kita menengok kebelakang, kita dapati ibu-ibu zaman dulu adalah teladan yang baik. Mereka memiliki bakti yang luar biasa kepada suami dan keluarganya. Mereka menghabiskan sebagian waktunya untuk urusan dapur guna menyiapkan bekal untuk anak-anak atau suami mereka. Belum lagi tugas beres-beres rumah dan mendidik anak yang tentunya cukup melelahkan. Dan yang lebih hebatnya lagi mereka tidak mengeluh dengan rutinitas yang ada, masyaAlloh...
Bandingkan dengan zaman sekarang. Banyak wanita yang bekerja dengan meninggalkan rumah-rumah mereka. Sebagian ada yang memiliki asisten rumah tangga (bagi mereka yang mampu) dan ada juga yang tidak. Lantas, bagaimana dengan suami dan anak-anak mereka ya? bagaimana mereka memberi waktu untuk kelurganya? bagaimana pula dengan tugas-tugasnya yang secara kodrat melekat padanya guna mencari surga Alloh? Saudari ku muslimah, itu adalah fenomena dizaman ini dan tentunya kita akan memberikan yang terbaik bagi keluarga kita.
Kembali lagi ketema pembahasan. Saudariku, meskipun kepandaian memasak bukanlah suatu hal yang mutlak, akan tetapi tidak ada salahnya bagi calon ibu rumah tangga untuk segera memulai belajar memasak agar terbiasa. Banyak sekali manfaat yang kelak dapat diambil ketika sudah berumah tangga (selain mendapatkan pahala jika ikhlas_isyaAlloh) dan diantaranya adalah :
a. Lebih
sesuai dengan selera
b. Lebih
sehat dan higenis
c. Lebih
hemat
d.
etc
Hasil Masakan yang lezat dan sehat itu yang diharapkan, akan tetapi semuanya
tidak diperoleh dengan cara instan. Belajarlah dan terus berlatihlah...insyaAlloh
akan mendapatkan hasil yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar