Minggu, 23 Agustus 2015

Peminang yang sederhana


Berikut saya hadirkan sebuah kisah yang dikutip (sedikit saya edit) dari Buku “Dilema Wanita Terlambat Menikah” dengan judul aslinya Al Unusah Bainal Mudharrwal ‘Illaj karya Muhyiddin Abdul Hamid terbitan Pustaka Al-Kautsar.
 Silahkan disimak dan petiklah hikmahnya…

Gadis itu tumbuh-berkembang dan terdidik dalam sebuah keluarga yang sederhana. Jumlah saudaranya sangat banyak. Mereka tidak mempunyai harta yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Sang Ayah baru bisa memenuhi kebutuhan keluarganya setelah bekerja keras dan bersusah payah. Jika anak perempuan dari keluarga itu menginginkan baju baru yang bisa diperlihatkan kepada teman-teman sebayanya, maka rona mukanya tampak berpikir serius karena kecilnya kemampuannya. Sementara Sang Ibu juga bingung, karena ia memaahami perasaan putrinya yang ingin tampil seperti teman-temannya. Sang Ibu dan Ayah mencoba untuk berhutang demi memenuhi impian putri mereka. Ini adalah hak putri mereka.

Kini Sang putri telah menempuh studi di perguruan tinggi. Karena terbatasnya kemampuan Ayah, ia sering bertukar pakaian dengan saudara perempuannya yang mempunyai postur tubuh yang sama. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan kuliah, ia hanya bisa mencopy materi-materi kuliah yang dibutuhkan. Alloh telah memberikan akal yang cerdas kepada gadis ini, ia mampu memanfaatkan perpustakaan kampus dengan baik, hingga akhirnya mampu menamatkan jenjang perguruan tinggi.

Setamat kuliah, ia mendapatkan kesempatan kerja. Ia pun menyambut kesempatan ini dengan girang. Barang kali gajinya mampu memenuhi keinginan perutnya yang Selama ini belum bisa terpenuhi. Ia pun berhayal, mengenang malam-malam dimana ia saling berbagi roti dengan saudara perempuannya. Betapa nikmatnya makanan jika telah siap saji. Ia termenung, mengenang peristiwa  tatkala berangkat ke sekolah atau universitas. Betapa sakit kakinya, karena ia tidak mampu mengganti sepatunya yang usang dan sesak dengan sepatu baru. Ini adalah kenangan yang menyedihkan. Hari-hari itu adalah hari-hari yang penuh dengan keprihatinan.

Alhamdulillah, sang gadis berkata kepada diri sendiri ”Saya akan berusaha dan bekerja keras, supaya saudara-saudaraku tidak mengalami penderitaan seperti ku. Saya akan bekerja giat dalam semua waktuku, agar saudaraku mendapatkan apa yang mereka inginkan dan  mereka menjadi tenang. Saya tidak akan menceritakan pengalamanku kepada mereka, ketika saya melihat ayah dan ibu menutup pintu kamar untuk membicarakan susahnya memenuhi nafkah kami. Lalu ayah keluar dengan senyum yang dipaksakan, sepertinya tidak terjadi sesuatu padahal hatinya terasa gundah. Inilah penderitaan akibat kemiskinan. Saya akan membantu mereka. Akan saya lakukan apa yang bisa, supaya mereka mampu  keluar dari belenggu kemiskinan. Seorang penyair mengatakan “ Jika saja kemiskinan berbentuk manusia laki-laki, aku pasti akan membunuhnya”. Saya akan membunuh kemiskinan ini dengan mencabut  kuku-kuku dan taring-taringnya yang selama ini digunakan untuk memangsa manusia”.

Kini sang gadis mulai dewasa. Ia pun mengeluhkan penderitaanya kepada Rabb_nya seraya mengulang hadits:
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari sempitnya dunia dan sempitnya hari kiamat”
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung dari kefakiran dan kekufuran”
“Ya Alloh, sesungguhnyaaku berlindung kepada Mu dari hilangnya nikmat Mu dan berubahnya kesehatan (yang Engkau berikan), dari datangnya kemarahan-Mu secara tiba-tiba dan dari kebencian-Mu.
 
Gadis itu kini telah dewasa dan mempunyai posisi terhormat didalam  keluarganya. Dia Merasa bangga dihadapan ayah dan ibunya dan dihormati paman , bibi dan orang-orang yang dekat dengannya.

Gadis yang bertakwa, takut kepada Rabb_nya, mencintai Nabi_nya, melaksanakan kewajibannya, membaca Al quran…menangis ketika membaca Al quran. Engkau tidak akan melihat darinya selain air mata yang bercucuran. Engkau melihatnya senantiasa berpikir dan merenung. Ia mampu menjadi teman terbaik bagi ibunya, meski ia sendiri mempunyai beban kerja yang berat. Ia mempunyai reputasi yang baik dilingkungan kerja dan disukai teman sejawatnya sesama wanita. Alloh menganugrahinya kecantikan dan memberikan petunjuk menuju jalan kebenaran yang lurus. Alloh telah menghias dirinya dengan akal yang cemerlang dan memberinya keistimewahan berupa akhlak mulia. Ia senantiasa taat kepada Rabb_nya dan tidak riya dihadapan orang lain.

Banyak pemuda yang mengetuk pintu hatinya untuk melamarnya sebagai istri. Inilah gadis yang layak dicintai. Inilah calon istri masa depan, wanita yang berakhlak mulia dan beragama. Barangsiapa mendapatkannya, ia akan mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, barangsiapa mengabaikan wanita seperti ini berarti ia tidak mematuhi tuntunan Rosululloh_sholallohu’alahi wasallam.

Para pemuda berlomba-lomba mendapatkan gadis solehah dan beragama tanpa mempertimbangkan hal-hal lain seperti harta dan kepandaian. Lantas, bagaimana pendapat anda tentang wanita cantik, beragama, dari nasab yang baik dan mempunyai banyak harta, meskipun keluarganya hidup sederhana?

Ibu sang gadis merasa bahagia. Dada sang ayah menjadi lapang. Kini sang gadis telah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Sang ayah mencarikan calon suami bagi putrinya itu. Akhirnya ia menemukan laki-laki yang memiliki kriteria-kriteria yang didambakan. Sang ayah bertambah lega perasaannya tatkala sifat-sifat dan kriteria suami yang baik dimiliki oleh laki-laki itu. 

Sang ayah tampak sibuk. Sedangkan ibu mendekati anak gadisnya dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Sang ibu membicarakan kelebihan laki-laki yang meminang gadisnya. Namun, sang gadis menolak…

Mengapa engkau menolak , wahai gadis kami? Bukankah sang pelamar mepunyai sifat-sifat dan kriteria yang baik sebagaimana diajarkan Nabi sholallohu’alahi wasallam? Sang gadis tidak menyebutkan alasan mengapa ia menolak. Namun, dalam hati kecilnya ia mengatakan,” Laki-laki itu seorang pegawai layaknya ayahku. Aku akan melahirkan keturunan. Dan aku hanya akan menemui penderitaan”...

Tak terasa, waktu pun berjalan dengan begitu cepat. Sekarang tidak ada lagi laki-laki yang datang melamar. Si gadis mengamati rumahnya, tidak ada siapa-siapa lagi. Semua saudaranya telah menikah. Ayah telah meninggal. Ibu telah tua renta. Kini dikepala sang gadis mulai tumbuh uban. Wajahnya yang dahulu cantik kini mulai keriput. Kawan-kawan sejawatnya telah mempunyai putra-putri, bahkan sebagian diantara mereka sudah ada yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

Sementara itu, sang gadis tetap hidup  menyendiri. Dia merenung dan berfikir, jangan-jangan suara yang didengarnya adalah suara “kereta pernikahan”. Namun, apa sesungguhnya yang terjadi? “kereta pernikahan” itu telah berlalu dan tidak mungkin akan kembali lagi…

My Notes, nasehat untuk saya pribadi dan ukhti, saudariku muslimah…

~Setinggi apapun karirnya atau sehebat apapun dia, dia tetaplah seorang wanita dengan segala kodratnya


~Tidak selayaknya seorang wanita memiliki pandangan yang sempit dengan bayang-bayang kefakiran karena kaya atau fakir itu adalah pemberian dari Alloh


~Jangan menyia-nyiakan ikhwan sholih yang datang dengan memperhitungkannya diatas kertas dan menjualnya dengan atribut dunia karena bisa jadi dia akan kehilangan apa yang sebenarnya berharga 


~ Kesholihan/baik agamanya adalah harga mutlak yang tidak boleh ditawar. Nikah tidak hanya untuk dunia saja akan tetapi sampai akhirat. Apa jadinya jika sang pemimpin tidak sholih? mau dibawa kemana rumah tangga itu?


~Bertawakallah dengan menyandarkan semua padaNya...Ikhlaslah dengan pemberiannya … 


~Semuanya tidak lepas dari takdir Alloh, biidznillah…terimalah takdir itu, jika menolak takdir maka takdir itu tetap terjadi (tidak bisa menolaknya) dan cintailah takdir, apapun takdirnya...dengan mencintainya  maka kita akan bahagia dan hati menjadi lapang.


~Dan bagi yang terlambat menikah -karena factor apapun- semoga cepat dihampiri kembali kereta pernikahan dan semoga harta, kekayaan, serta atribut dunia lainnya tidaklah menghalanginya dari menerima pinangan lelaki  yang sholih  lagi baik hati …aamiin…




Tidak ada komentar:

Posting Komentar