Berikut saya hadirkan sebuah kisah yang dikutip (sedikit
saya edit) dari Buku “Dilema Wanita Terlambat Menikah” dengan judul aslinya Al
Unusah Bainal Mudharrwal ‘Illaj karya Muhyiddin Abdul Hamid terbitan Pustaka
Al-Kautsar.
Silahkan
disimak dan petiklah hikmahnya…
Gadis itu tumbuh-berkembang dan terdidik dalam sebuah
keluarga yang sederhana. Jumlah saudaranya sangat banyak. Mereka tidak
mempunyai harta yang cukup untuk memenuhi semua kebutuhan. Sang Ayah baru bisa
memenuhi kebutuhan keluarganya setelah bekerja keras dan bersusah payah. Jika
anak perempuan dari keluarga itu menginginkan baju baru yang bisa diperlihatkan
kepada teman-teman sebayanya, maka rona mukanya tampak berpikir serius karena
kecilnya kemampuannya. Sementara Sang Ibu juga bingung, karena ia memaahami
perasaan putrinya yang ingin tampil seperti teman-temannya. Sang Ibu dan Ayah
mencoba untuk berhutang demi memenuhi impian putri mereka. Ini adalah hak putri
mereka.
Kini Sang putri telah menempuh studi di perguruan
tinggi. Karena terbatasnya kemampuan Ayah, ia sering bertukar pakaian dengan
saudara perempuannya yang mempunyai postur tubuh yang sama. Bahkan, untuk memenuhi
kebutuhan kuliah, ia hanya bisa mencopy materi-materi kuliah yang dibutuhkan.
Alloh telah memberikan akal yang cerdas kepada gadis ini, ia mampu memanfaatkan
perpustakaan kampus dengan baik, hingga akhirnya mampu menamatkan jenjang
perguruan tinggi.
Setamat kuliah, ia mendapatkan kesempatan kerja. Ia
pun menyambut kesempatan ini dengan girang. Barang kali gajinya mampu memenuhi
keinginan perutnya yang Selama ini belum bisa terpenuhi. Ia pun berhayal,
mengenang malam-malam dimana ia saling berbagi roti dengan saudara
perempuannya. Betapa nikmatnya makanan jika telah siap saji. Ia termenung,
mengenang peristiwa tatkala berangkat ke sekolah atau universitas. Betapa
sakit kakinya, karena ia tidak mampu mengganti sepatunya yang usang dan sesak
dengan sepatu baru. Ini adalah kenangan yang menyedihkan. Hari-hari itu adalah
hari-hari yang penuh dengan keprihatinan.
Alhamdulillah, sang gadis berkata kepada diri sendiri ”Saya
akan berusaha dan bekerja keras, supaya saudara-saudaraku tidak mengalami penderitaan
seperti ku. Saya akan bekerja giat dalam semua waktuku, agar saudaraku
mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mereka menjadi tenang. Saya
tidak akan menceritakan pengalamanku kepada mereka, ketika saya melihat ayah
dan ibu menutup pintu kamar untuk membicarakan susahnya memenuhi nafkah kami.
Lalu ayah keluar dengan senyum yang dipaksakan, sepertinya tidak terjadi
sesuatu padahal hatinya terasa gundah. Inilah penderitaan akibat kemiskinan.
Saya akan membantu mereka. Akan saya lakukan apa yang bisa, supaya mereka
mampu keluar dari belenggu kemiskinan.
Seorang penyair mengatakan “ Jika saja kemiskinan berbentuk manusia laki-laki,
aku pasti akan membunuhnya”. Saya akan membunuh kemiskinan ini dengan mencabut kuku-kuku dan taring-taringnya yang selama
ini digunakan untuk memangsa manusia”.
Kini sang gadis mulai dewasa. Ia pun mengeluhkan
penderitaanya kepada Rabb_nya seraya mengulang hadits:
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari
sempitnya dunia dan sempitnya hari kiamat”
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung dari kefakiran
dan kekufuran”
“Ya Alloh, sesungguhnyaaku berlindung kepada Mu dari
hilangnya nikmat Mu dan berubahnya kesehatan (yang Engkau berikan), dari
datangnya kemarahan-Mu secara tiba-tiba dan dari kebencian-Mu.
Gadis itu kini telah dewasa dan mempunyai posisi
terhormat didalam keluarganya. Dia
Merasa bangga dihadapan ayah dan ibunya dan dihormati paman , bibi dan
orang-orang yang dekat dengannya.
Gadis yang bertakwa, takut kepada Rabb_nya, mencintai Nabi_nya, melaksanakan kewajibannya, membaca Al quran…menangis ketika membaca Al
quran. Engkau tidak akan melihat darinya selain air mata yang bercucuran.
Engkau melihatnya senantiasa berpikir dan merenung. Ia mampu menjadi teman terbaik
bagi ibunya, meski ia sendiri mempunyai beban kerja yang berat. Ia
mempunyai reputasi yang baik dilingkungan kerja dan disukai teman sejawatnya sesama
wanita. Alloh menganugrahinya kecantikan dan memberikan petunjuk menuju jalan
kebenaran yang lurus. Alloh telah menghias dirinya dengan akal yang cemerlang
dan memberinya keistimewahan berupa akhlak mulia. Ia senantiasa taat kepada Rabb_nya dan tidak riya dihadapan orang lain.
Banyak pemuda yang mengetuk pintu hatinya untuk
melamarnya sebagai istri. Inilah gadis yang layak dicintai. Inilah calon istri
masa depan, wanita yang berakhlak mulia dan beragama. Barangsiapa
mendapatkannya, ia akan mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat.
Sebaliknya, barangsiapa mengabaikan wanita seperti ini berarti ia tidak
mematuhi tuntunan Rosululloh_sholallohu’alahi wasallam.
Para pemuda berlomba-lomba mendapatkan gadis solehah
dan beragama tanpa mempertimbangkan hal-hal lain seperti harta dan kepandaian.
Lantas, bagaimana pendapat anda tentang wanita cantik, beragama, dari nasab
yang baik dan mempunyai banyak harta, meskipun keluarganya hidup sederhana?
Ibu sang gadis merasa bahagia. Dada sang ayah menjadi
lapang. Kini sang gadis telah dewasa dan sebentar lagi akan menjadi seorang
istri. Sang ayah mencarikan calon suami bagi putrinya itu. Akhirnya ia
menemukan laki-laki yang memiliki kriteria-kriteria yang didambakan. Sang ayah
bertambah lega perasaannya tatkala sifat-sifat dan kriteria suami yang baik
dimiliki oleh laki-laki itu.
Sang ayah tampak sibuk. Sedangkan ibu mendekati anak
gadisnya dan membisikkan sesuatu ditelinganya. Sang ibu membicarakan kelebihan
laki-laki yang meminang gadisnya. Namun, sang gadis menolak…
Mengapa engkau menolak , wahai gadis kami? Bukankah sang
pelamar mepunyai sifat-sifat dan kriteria yang baik sebagaimana diajarkan Nabi sholallohu’alahi
wasallam? Sang gadis tidak menyebutkan alasan mengapa ia menolak. Namun, dalam
hati kecilnya ia mengatakan,” Laki-laki itu seorang pegawai layaknya ayahku.
Aku akan melahirkan keturunan. Dan aku hanya akan menemui penderitaan”...
Tak terasa, waktu pun berjalan dengan begitu cepat.
Sekarang tidak ada lagi laki-laki yang datang melamar. Si gadis mengamati
rumahnya, tidak ada siapa-siapa lagi. Semua saudaranya telah menikah. Ayah
telah meninggal. Ibu telah tua renta. Kini dikepala sang gadis mulai tumbuh
uban. Wajahnya yang dahulu cantik kini mulai keriput. Kawan-kawan sejawatnya
telah mempunyai putra-putri, bahkan sebagian diantara mereka sudah ada yang
menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Sementara itu, sang gadis tetap hidup menyendiri. Dia merenung dan berfikir,
jangan-jangan suara yang didengarnya adalah suara “kereta pernikahan”. Namun,
apa sesungguhnya yang terjadi? “kereta pernikahan” itu telah berlalu dan tidak
mungkin akan kembali lagi…
My Notes, nasehat untuk saya pribadi dan ukhti,
saudariku muslimah…
~Setinggi apapun karirnya atau sehebat apapun dia, dia
tetaplah seorang wanita dengan segala kodratnya
~Tidak selayaknya seorang wanita memiliki pandangan
yang sempit dengan bayang-bayang kefakiran karena kaya atau fakir itu adalah
pemberian dari Alloh
~Jangan menyia-nyiakan ikhwan sholih yang datang
dengan memperhitungkannya diatas kertas dan menjualnya dengan atribut dunia
karena bisa jadi dia akan kehilangan apa
yang sebenarnya berharga
~ Kesholihan/baik agamanya adalah harga mutlak yang
tidak boleh ditawar. Nikah tidak hanya untuk dunia saja akan tetapi sampai
akhirat. Apa jadinya jika sang pemimpin tidak sholih? mau dibawa kemana rumah
tangga itu?
~Bertawakallah dengan menyandarkan semua padaNya...Ikhlaslah
dengan pemberiannya …
~Semuanya tidak lepas dari takdir Alloh, biidznillah…terimalah
takdir itu, jika menolak takdir maka takdir itu tetap terjadi (tidak bisa menolaknya) dan cintailah
takdir, apapun takdirnya...dengan mencintainya maka kita akan bahagia dan hati menjadi lapang.
~Dan bagi yang terlambat menikah -karena factor apapun-
semoga cepat dihampiri kembali kereta pernikahan dan semoga harta, kekayaan, serta atribut dunia lainnya tidaklah menghalanginya dari menerima pinangan lelaki yang sholih lagi baik hati …aamiin…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar