Minggu, 06 September 2015

Dilema Wanita Bekerja


Kuliah, kerja, nikah

Begitukah idealnya…?

Saudariku, mungkin banyak dari kita yang mendapatkan hidayah (menempuh manhaj salaf) semasa kuliah. Begitu Banyak majelis ilmu disekitar kampus.... MasyaAlloh…

Kuliah dan rutinitasnya tidak menghalangi mahasiswi untuk menuntut ilmu syar’i (ngaji). Ngaji adalah aktivitas yang begitu menyenangkan. Ruh ini fresh kembali dan banyak ilmu yang didadapat ditengah-tengah kesibukan aktifitas kampus. Belum lagi berteman dengan orang yang baik lagi sholihah sehingga dapat menjadi ghiroh disaat tidak bersemangat dalam ngaji dan hafalan. 

Kemudahan yang Alloh berikan adalah sebuah kenikmatan. Di tempat yang tepat, diwaktu yang tepat dan dimasa yang tepat pula (muda).  Waktu itu terlalu sayang dilewatkan begitu saja jika dihabiskan dengan ilmu duniawi semata tanpa dapat menimba ilmu syar’i untuk bekal kehidupan nyata dan akhirat kita. Ini adalah kampung perpisahan dimana kita mengukir waktu kuliah dengan apa-apa yang bermanfaat dan tentunya waktu itu tidak dapat diputar kembali. 

Alhamdulillah….alladzi bini’matihi tatimmush-sholihat…Semua ini patut disyukuri karena hidayah itu tak ternilai harganya dan beruntunglah kita yang telah ditunjuki manhaj yang benar ini. Ini semua karena kasih-sayang Ar-Rohman yang menginginkan kebaikan pada hambaNya dan kita harus menjaganya sampai-kapan pun meskipun ujian datang dan tentunya dengan memohon keteguhan kepada Robbul’alamin. 

Selesai sudah tugas belajar ini, tibalah saatnya wisuda. Tahapan yang dinantikan selain sebagai bentuk tanggung jawab terhadap orang tua. Setelahnya, kita akan berhadapan dengan real world yang heterogen. Tiba pula saatnya meninggalkan kampung perpisahan, kitapun pergi dengan membawa bekal terbaik dan apa-apa yang telah diusahakan di kampung ini…Waktu yang begitu singkat dan insyaAlloh berkah.

Menikah atau Bekerja….?

Banyak yang memilih menempuh menikah karena banyak kemuliaan bagi muslimah yang notabennya sudah ngaji. Dan menikah adalah yang terbaik ketimbang kerja. Mereka bisa mengabdikan diri kepada suami, mendidik anak-anak yang menegakkan tauhid, terbebas dari ikhtilat seperti halnya masa kuliah, lebih mudah untuk menjaga hidayah, dan etc. Semuanya itu ia lakukan diatas ilmunya, disaat muslimah yang lain memutuskan bekerja dengan berbagai alasan. 

Aku adalah muslimah yang memutuskan untuk bekerja disaat teman-temanku memutuskan menikah, meskipun aku sendiri sadar bahwa keputusan ini tidaklah mudah. Kalau ingin mengikuti asa, tentulah aku tidak mau bekerja. Akan tetapi, realita tak demikian. Setidaknya itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan saat itu. Harap ku kala itu, kelak setelah menikah akaupun akan meninggalkan pekerjaan guna meraih surga dengan berbakti pada suami dan mendidik anak-anak dengan tanganku sendiri.

Jika punya kelebihan dan bakat lainnya mungkin aku bisa berkerja didalam rumah. Aku pun berusaha semampuku mencari pekerjaan yang relatif aman. Qodarulloh…aku bersandar pada baiknya takdir Alloh untuk ku  dan aku bertaqwa semampuku dengan mengamalakan ilmu yang telah didapat. 

Disuatu desa yang nan jauh dari Kota Hujan aku mukim, tidak terlalu jauh dari tempat kerjaku ku. Kalau berjalan kaki kisaran 15-20 menit, ya itung-itung jalan sehat. Katanya, disini tempat jin buang anaknya (maksudnya karena jauhnya ^^). Untuk menghadiri kajian saja, membutuhkan perjuangan lebih. Ya, inilah ujian ku dan akupun berbahagia dengannya....

Aku bersyukur ditempatkan dikantor ini. Mereka menerimaku dengan baik dan  mereka mudah untuk diajak pada kebaikan (open mindded). Akupun mencoba menjadi pribadi yang bermanfaat  dan mengenalkan sunnah ini sesuai kemampuanku...Alhamdulllah….alladzi bini’matihi tatimmush-sholihat

Adalah pertongan Alloh yang senantiasa menaungi ku...tak henti-hentinya aku bersyukur kepadaNya. Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh aku senatiasa menjaga prinsip ku dan Alloh senantiasa menjaga ku untuk menempuh jalan yang lurus... Jika kita jujur pada Alloh, pasti Alloh akan senatiasa menolong hambaNya.

Hari-hari kujalani dengan bekerja. Akupun mencoba mempolakan kerjaku agar hari-hari kerja tidak di lalui untuk dunia saja. Disaat teman-temanku memiliki banyak waktu untuk hafalan dan dunia wanitanya, aku malah sibuk dengan dunia yang fana dan berjibaku dengan kerjaan. Wal hasil aku tertinggal. Mereka memiliki banyak hafalan, kemampuan bahasa arab yang mumpuni dan ilmu yang jauh lebih banyak dariku. Akupun mencoba bertakwa semampuku dan berusaha untuk amanah terhadap yang aku jalani agar hisab ku tidaklah berat.

Rumah adalah tempat terbaik bagi muslimah. Kalaupun benar-benar terpaksa harus bekerja karena suatu hal maka carilah pekerjaan yang relative aman yang bisa dilakukan didalam rumah. Kalaupun tidak, carilah yang benar-benar syar’i. Dan memang tidaklah selayaknya seorang wanita bekerja karena kodratnya memang demikian. 

Harapan untuk meninggalkan pekerjaan ini tetap ada...ya, meninggalkannya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik untuk diri, agama dan akhirat ku kelak. Akupun senantiasa memohon kepada Alloh agar pertolonganNya membawa ku terbang dari dunia kerjaku. Semoga itu semua terwujud dan beriringan dengan ketentuan Rabbul’alamin yang telah tertulis untukku, aamiin…  

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau  melakukan kesalahan
Ya Rabb kami, janganlah Engkau membebani kami dengan beban yang berat sebagaimaan Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.

Ya Rabb kami, Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.

Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatillah kami…..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar