Begitukah idealnya…?
Saudariku, mungkin banyak dari kita yang mendapatkan
hidayah (menempuh manhaj salaf) semasa kuliah. Begitu Banyak majelis ilmu disekitar
kampus.... MasyaAlloh…
Kuliah dan rutinitasnya tidak menghalangi mahasiswi
untuk menuntut ilmu syar’i (ngaji). Ngaji adalah aktivitas yang begitu
menyenangkan. Ruh ini fresh kembali dan banyak ilmu yang didadapat
ditengah-tengah kesibukan aktifitas kampus. Belum lagi berteman dengan orang
yang baik lagi sholihah sehingga dapat menjadi ghiroh disaat tidak bersemangat
dalam ngaji dan hafalan.
Kemudahan yang Alloh berikan adalah sebuah kenikmatan.
Di tempat yang tepat, diwaktu yang tepat dan dimasa yang tepat pula (muda). Waktu itu terlalu sayang dilewatkan begitu
saja jika dihabiskan dengan ilmu duniawi semata tanpa dapat menimba ilmu syar’i
untuk bekal kehidupan nyata dan akhirat kita. Ini adalah kampung perpisahan
dimana kita mengukir waktu kuliah dengan apa-apa yang bermanfaat dan tentunya waktu
itu tidak dapat diputar kembali.
Alhamdulillah….alladzi bini’matihi
tatimmush-sholihat…Semua ini patut disyukuri karena hidayah itu tak ternilai
harganya dan beruntunglah kita yang telah ditunjuki manhaj yang benar ini. Ini
semua karena kasih-sayang Ar-Rohman yang menginginkan kebaikan pada hambaNya
dan kita harus menjaganya sampai-kapan pun meskipun ujian datang dan tentunya
dengan memohon keteguhan kepada Robbul’alamin.
Selesai sudah tugas belajar ini, tibalah saatnya wisuda.
Tahapan yang dinantikan selain sebagai bentuk tanggung jawab terhadap orang tua.
Setelahnya, kita akan berhadapan dengan real world yang heterogen. Tiba pula
saatnya meninggalkan kampung perpisahan, kitapun pergi dengan membawa bekal
terbaik dan apa-apa yang telah diusahakan di kampung ini…Waktu yang begitu
singkat dan insyaAlloh berkah.
Menikah atau Bekerja….?
Banyak yang memilih menempuh menikah karena banyak
kemuliaan bagi muslimah yang notabennya sudah ngaji. Dan menikah adalah yang
terbaik ketimbang kerja. Mereka bisa mengabdikan diri kepada suami, mendidik
anak-anak yang menegakkan tauhid, terbebas dari ikhtilat seperti halnya masa
kuliah, lebih mudah untuk menjaga hidayah, dan etc. Semuanya itu ia lakukan
diatas ilmunya, disaat muslimah yang lain memutuskan bekerja dengan berbagai
alasan.
Aku adalah muslimah yang memutuskan untuk bekerja
disaat teman-temanku memutuskan menikah, meskipun aku sendiri sadar bahwa
keputusan ini tidaklah mudah. Kalau ingin mengikuti asa, tentulah aku tidak mau
bekerja. Akan tetapi, realita tak demikian. Setidaknya
itulah yang terbaik yang bisa aku lakukan saat itu. Harap ku kala
itu, kelak setelah menikah akaupun akan meninggalkan pekerjaan guna meraih
surga dengan berbakti pada suami dan mendidik anak-anak dengan tanganku sendiri.
Jika
punya kelebihan dan bakat lainnya mungkin aku bisa berkerja didalam rumah. Aku
pun berusaha semampuku mencari pekerjaan yang relatif aman. Qodarulloh…aku
bersandar pada baiknya takdir Alloh untuk ku dan aku
bertaqwa semampuku dengan mengamalakan ilmu yang telah didapat.
Disuatu desa yang nan jauh dari Kota Hujan aku mukim,
tidak terlalu jauh dari tempat kerjaku ku. Kalau berjalan kaki kisaran 15-20
menit, ya itung-itung jalan sehat. Katanya, disini tempat jin buang anaknya
(maksudnya karena jauhnya ^^). Untuk menghadiri kajian saja, membutuhkan
perjuangan lebih. Ya, inilah ujian ku dan akupun berbahagia dengannya....
Aku bersyukur ditempatkan dikantor ini. Mereka menerimaku dengan baik dan mereka mudah untuk diajak pada kebaikan
(open mindded). Akupun mencoba menjadi pribadi yang bermanfaat dan mengenalkan sunnah ini sesuai kemampuanku...Alhamdulllah….alladzi bini’matihi
tatimmush-sholihat
Adalah pertongan Alloh yang senantiasa menaungi ku...tak henti-hentinya aku bersyukur kepadaNya. Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh aku senatiasa menjaga prinsip ku dan Alloh senantiasa menjaga ku untuk menempuh jalan yang lurus... Jika kita jujur pada Alloh, pasti Alloh akan senatiasa menolong hambaNya.
Hari-hari kujalani dengan bekerja. Akupun mencoba mempolakan kerjaku agar hari-hari kerja tidak di
lalui untuk dunia saja. Disaat teman-temanku memiliki banyak waktu untuk hafalan
dan dunia wanitanya, aku malah sibuk dengan dunia yang fana dan berjibaku
dengan kerjaan. Wal hasil aku tertinggal. Mereka memiliki banyak hafalan,
kemampuan bahasa arab yang mumpuni dan ilmu yang jauh lebih banyak dariku.
Akupun mencoba bertakwa semampuku dan berusaha untuk amanah terhadap yang aku
jalani agar hisab ku tidaklah berat.
Rumah adalah tempat terbaik bagi muslimah. Kalaupun benar-benar terpaksa harus bekerja karena suatu hal maka
carilah pekerjaan yang relative aman yang bisa dilakukan didalam rumah. Kalaupun
tidak, carilah yang benar-benar syar’i. Dan memang tidaklah selayaknya seorang
wanita bekerja karena kodratnya memang demikian.
Harapan untuk meninggalkan pekerjaan ini tetap ada...ya, meninggalkannya dan menggantinya dengan
sesuatu yang lebih baik untuk diri, agama dan akhirat ku kelak. Akupun
senantiasa memohon kepada Alloh agar pertolonganNya membawa ku terbang dari
dunia kerjaku. Semoga itu semua terwujud dan beriringan dengan ketentuan
Rabbul’alamin yang telah tertulis untukku, aamiin…
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau melakukan kesalahan
Ya Rabb kami, janganlah Engkau membebani kami dengan
beban yang berat sebagaimaan Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Rabb kami, Janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatillah
kami…..”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar