Pokok segala urusan dalam hal menghindari kemauan hawa
nafsu bertumpu pada kecintaan dengan Alloh, kemauan untuk meraih ridlo_Nya, dan
pendekatan diri kepada_Nya melalui berbagai sarana dan merindukan berjumpa
dengan_Nya.
Jika seorang hamba tidak punya cita-cita untuk meraih hal tersebut, maka ia harus punya
keinginan untuk dapat meraih surga, mereguk kenikmatannya, dan meraih pahala
yang telah dijanjikan oleh_Nya untuk kekasih-kekasih_Nya.
Jika ia masih juga tidak punya cita-cita yang dapat
mendorongnya untuk meraih hal tersebut, maka dia harus punya rasa takut kepada
neraka dan siksa yang telah dipersiapkan oleh Alloh untuk orang yang durhaka
kepada_Nya.
Jika jiwanya masih juga belum tergerak untuk meraih
sesuatu dari hal tersebut, maka perlu diketahui olehnya bahwa dirinya
diciptakan untuk neraka bukan untuk nikmat surga.
Dan tiada yang mempunyai kemampuan untuk melakukan hal tersebut sesudah takdir Alloh dan taufik_Nya kecuali hanya dengan cara menentang kemauan hawa nafsunya.
Dan tiada yang mempunyai kemampuan untuk melakukan hal tersebut sesudah takdir Alloh dan taufik_Nya kecuali hanya dengan cara menentang kemauan hawa nafsunya.
(“Taman Orang-orang Jatuh Cinta” Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar